Mengapa Tidak Boleh Asal Icip-Icip? Ini Jwabannya Baca Selengkapnya!

lezatnya-menyantap-sop-buah-durian-indonesia-di-lodaya
Jumat malam tempo hari selesai meliput satu acara yang diselenggarakan oleh satu partai politik, penulis di ajak makan bersama oleh seseorang fotografer. Pasti ajakan yang menarik tak penulis tolak, apalagi masalah makanan, tak miliki alasan menolak terkecuali puasa. Kebetulan malam itu makan di restoran Korea di lokasi Depok, buat penulis penasaran saja karena sekalipun belum pernah rasakan masakan Korea.

“Silakan pesan yang belum pernah dikonsumsi! ” kata rekan yang menggunakan peci hitam itu.

Penulis masih membuka-buka buku menu dan membolak-baliknya seperti buka album masa lalu.

“Bingung ingin makan yang mana, ” tutur penulis sambil mata sekali memandang dinding yang penuh dengan beberapa artis Korea Selatan, beberapa group vokal.

“Gimana bila yang ini? Icip-icip saja, ” tawar teman. Icip-icip yang ini untuk melukiskan beberapa cobalah makanan baru, orang lebih sukai menggunakan kata icip-icip walau porsinya banyak dari pada menyampaikan beberapa cobalah.

Menu yang penulis yaitu Bibimbap. Pesanan yang dipesan juga datang. Nasi dalam mangkok yang di atasnya ada telur mata sapi, daging, tumisan sayur, juga pasta serta saos di atasnya. Rasa-rasanya, ah, pantas disyukuri. Tetapi jika boleh dikomparasikan dengan pecel pincuk pasti begitu beda jauh rasa-rasanya. Lebih enak pecel. Mungkin saja lidah lokal ini tak pas dengan masakan ala Suju. Disebut menyesal, tidak juga, paling tidak paham satu masakan Korea.

Itu akibatnya karena satu icip-icip. Icip-icip ada juga di masalah lain. Sekian hari lalu ada seorang adik kelas curhat. Ia mengungkap satu pernyataan paling besar dalam kehidupannya. Satu dosa besar.

“Saya pernah pacaran saat SMA. Bila dihitung tiga orang cewek. Dan saya pernah ‘bercinta’ dengan mereka, ” katanya.

Penulis tercekat. Kaget. “Bercinta? ”

“Iya, tetapi tidaklah sampai hamil. Jangan pernah lah, ” katanya lagi.

“Kenapa anda mengerjakannya? ”

“Icip-icip, Mas. ”

Icip-icip?

“Lagi juga mereka yang mulai sih, penampilannya menggoda, ” katanya.

Penulis masih menghela nafas, kaget dengan pengakuannya.

“Tapi itu dulu, masa jelek saya. Saya ketahui itu dosa besar. Janganlah dibicarakan lagi ya, ” ucapnya.

Icip-icip. Ya, semuanya berawal dari icip-icip. Bila kita icip-icip masakan kita dapat tahu apakah masakan itu kurang garam atau kurang bumbu dapur yang lain. Icip-icip makanan kita dapat tahu bagaimana rasa makanan yang kita pesan. Sesaat bila icip-icip beberapa hal yang negatif serta menjerumuskan pada beberapa hal yang menyingkirkan kesadaran diri pasti begitu bahaya, icip-icip s3ks before married umpamanya.

You’ll never know till you’ve tried, pasti benar. Tetapi jadi tak benar bila dikerjakan pada beberapa hal yg tidak benar. Dapat fatal.

Jadi, janganlah asal icip-icip pada hal negatif. Berani kotor itu (tidak selamanya) baik.
SHARE

Milan Tomic

Hi. I’m Designer of Blog Magic. I’m CEO/Founder of ThemeXpose. I’m Creative Art Director, Web Designer, UI/UX Designer, Interaction Designer, Industrial Designer, Web Developer, Business Enthusiast, StartUp Enthusiast, Speaker, Writer and Photographer. Inspired to make things looks better.

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
    Blogger Comment

0 komentar:

Posting Komentar