Al-Turabi -yang fasih berbahasa Perancis, Inggris dan Jerman- bergabung dengan organisasi Ikhwanul Muslimin dan menjabat Ketua Ikhwan di Sudan pada tahun 1969, tetapi kemudian Al-Turabi keluar dari organisasi tersebut dan membangun partai oposisi independen tersendiri untuk dirinya.

Pada tahun 1996 Al-Turabi terpilih sebagai ketua parlemen Sudan di era “Revolusi Penyelamatan”, sebagaimana beliau Al-Turabi juga pernah terpilih menjadi Sekretaris Jenderal Partai Konferensi Nasional yang berkuasa di Sudan pada tahun 1998.
Terjadi perselisihan antara Al-Turabi dan Presiden Basyir yang selanjutnya berkembang menjadi pecahnya kekuasaan di Sudan pada tahun 1999, dimana
Al-Turabi dilucuti dari berbagai jabatan resminya baik di pemerintahan maupun di partai yang sedang berkuasa di Sudan saat itu, dan pada tahun 2001 Al-Turabi mendirikan “Partai Kongres Rakyat”, sebagai mana Al-Turabi sempat dipenjara beberapa kali di masa pemerintahan Presiden Jaafar Nimeiri.
Al-Turabi adalah sosok kontroversial, dimana para pendukungnya menilai beliau sebagai seorang politikus handal, canggih dalam mengarahkan media, dan orator yang sangat menggugah, dai dan sekaligigus cendikiawan. Sedangkan musuh-musuhnya memandangnya sebagai sosok ambisius tak berbatas, ahli dalam bermakar dan berkonspirasi serta haus kekuasaan.
Al-Turabi juga pernah dituduh mengeluarkan fatwa yang tidak biasa yang dianggap keluar dari frame umum fatwa-fatwa keislaman, khususnya terkait berbagai permasalahan-permasalahan di bidang akidah, terlalu jauh dalam mengembang teori “mashlahah“, dan terlalu jauh dalam mengembangkan konsep “qiyas”, sebagaimana Al-Turabi juga memandang bahwa ijtihad milik semua orang. (ts/Aljazeera)
sumber:http://webcache.googleusercontent.com/search?
sumber://www.beritaterpercaya.com/2016/03/mari-sejenak-membaca-berita-duka.html
:
0 komentar:
Posting Komentar